Konsumen Indonesia Lebih Intuitif dan Andalkan Konten dalam Berbelanja

(ki-ka) Pendiri Heylook Hikma Sukmawatin, Pendiri & CEO Kelaya Ardian Faisal Akbar, dan Head of Business Marketing TikTok Sitaresti Astarini. (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

TikTok bersama dengan Accenture mengeluarkan riset terbaru yang menyoroti bagaimana konten membentuk perilaku konsumen. Dalam laporan bertajuk Shoppertainment 2024: The Future of Consumer & Commerce in APAC, menujukan bahwa konsumen mulai beralih dari pembelian impulsif dan mengandalkan pada diskon, ke pencarian informasi untuk menilai kualitas produk.

Melalui riset ini, diharapkan dapat membantu brand dalam mempersiapkan strategi pemasaran di TikTok tahun ini, dengan menerapkan pendekatan berbasis entertainment first, commerce later.

Sitaresti Astarini, Head of Business Marketing TikTok Indonesia mengatakan bahwa terdapat tiga tren dari pergeseran konsumen dalam melihat suatu konten. “Pertama, konsumen tidak lagi impulsif dalam berbelanja tetapi lebih intuitif terhadap nilai suatu produk. Kedua, ada harapan yang semakin besar terhadap konten untuk meningkatkan pengalaman berbelanja yang effortless. Ketiga, munculnya konten komunitas yang menekankan pada interaktivitas dari komunitas di dalamnya terkait suatu produk,” ujar Sitaresti.

Dari laporan tersebut, hanya 41% konsumen di Indonesia yang terpengaruh oleh konten promosi sebelum memutuskan untuk membeli. Kini, mereka lebih mempercayai intuisi saat menentukan apakah produk itu cocok dengan mereka atau tidak, tanpa perlu mencari informasi lebih lanjut. Laporan ini menunjukkan, konsumen di Indonesia lebih mungkin 2 kali lipat untuk membuat keputusan belanja secara intuitif, dibandingkan mereka yang jarang belanja di platform sosial atau hiburan.

Dari segi konten, konsumen di Indonesia lebih menyukai konten video yang memiliki tingkat relevansi dan autentik yang tinggi dengan kehidupan mereka (relatable realism). Video yang memperlihatkan kualitas produk secara nyata, memperbolehkan audiens untuk melihat produk tersebut dari berbagai angle, justru lebih disenangi oleh konsumen. Inilah yang membuat format live shopping menjadi populer karena memberikan akses kepada konsumen untuk melihat produk sepenuhnya seperti melihatnya secara langsung.

Baca Juga  Tutup Triwulan III, Kanwil DJP Bali Bukukan Penerimaan Pajak Rp 9,45 Triliun

Sebagian besar konsumen di Indonesia (93%) mencari platform belanja yang berbasis konten dalam 1-2 tahun ke depan, di mana mereka bisa menemukan, mempertimbangkan, dan membeli produk di satu platform. Konten video di platform seperti TikTok pun menjadi cara bagi konsumen ini untuk mencari produk secara rutin, di mana 2.5 kali lebih banyak orang yang memanfaatkan platform video, dibandingkan menemukan produk lewat mesin pencarian tradisional.

Sebanyak 45% konsumen di Indonesia ternyata dipengaruhi oleh content community. Mereka cenderung merayakan dan membagikan brand maupun produk yang mereka sukai atau mereka lihat, mewujudkan semangat “gotong royong” khas Indonesia untuk membantu satu sama lain (alturistic sharings). Selain itu, 81% konsumen Indonesia membuat konten dengan cara yang ‘mengalir’ atau interaktif dengan mengikuti tren dari para kreator, serta mendorong pengguna lainnya agar berkontribusi di kolom komentar, like, dan lainnya.

Sebagai salah satu merek yang telah memanfaatkan platform TikTok untuk menyampaikan kontennya adalah Kelaya. Brand UMKM asal Surabaya ini mengutamakan konten yang edukatif, namun tetap menghibur, dengan mengedepankan penjelasan mengenai manfaat dan kandungan produknya.

“Konsumen Kelaya sangat menyukai konten-konten video yang informatif. Hal ini membuat kami menjadi lebih gencar untuk memberikan edukasi perawatan rambut dengan berkolaborasi langsung bersama dokter sebagai ahli di bidangnya. Selain itu, kami juga terus memberikan informasi seputar kualitas dan kandungan produk kami sehingga membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap keaslian dan keterjaminan produk Kelaya ini hingga mendorong mereka untuk membeli produk kami,” ujar Ardian Faisal Akbar, Pendiri & CEO Kelaya.

Sementara Heylook, brand UMKM fashion dari Tangerang yang telah didirikan sejak 2006, kini telah merangkul pasar offline dan online untuk mengoptimalkan laju bisnisnya. Sejak Maret 2022, Heylook telah membentuk komunitas mereka sendiri di TikTok melalui konten kreatif yang menampilkan produk-produk mereka yang penuh gaya.

Baca Juga  Mirae Asset Menyokong Pendidikan Anak-Anak

“Perilaku tren konsumen di Indonesia yang sangat kuat dalam komunitas konten, menjadi peluang emas bagi kami untuk mengoptimalkan bisnis di TikTok. Ke depannya, kami melihat bagaimana sesama kreator bisa saling mempengaruhi, karena itulah kami ingin berkolaborasi dengan kreator, bukan hanya untuk mengulas, tapi juga menciptakan produk bersama,” ungkap Hikma Sukmawati, Pemilik Heylook.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *