Intip Peluang Investasi Kripto saat Harga Bitcoin Sideways

Performa Altcoin tengah menggembirakan saat Bitcoin mengalami sidewyas.

Kenaikan harga Bitcoin (BTC) melambat dalam dua pekan terakhir di bulan November ini. Walaupun sempat menembus harga US$38 ribu pada Jumat, 24 November minggu lalu, harga BTC kembali mengalami koreksi minor dan kini berada pada area harga US$37.000.

Analis Kripto Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan, kondisi ini terjadi karena adanya keseimbangan antara katalis positif dan negatif sehingga mendorong harga BTC relatif cukup stabil. Selain itu, ini juga disebabkan oleh reli yang terjadi sebelumnya telah berlangsung selama satu bulan lebih tanpa adanya koreksi harga signifikan. Yakni pada 13 Oktober yang berhasil membawa BTC naik dari area harga US$26.000 ke US$37.000.

Pasar, kata Fahmi, membutuhkan momen untuk meninjau ulang apakah kenaikan harga yang terjadi akan berkelanjutan. Dalam beberapa hari terakhir, kami melihat beberapa peristiwa yang oleh beberapa investor dapat ditafsirkan sebagai sinyal waspada seperti denda US$4 miliar yang dikenakan kepada Binance, serangan hacker terhadap HTX dan beberapa platform lainnya.

“Peristiwa tersebut dampaknya mungkin belum bisa sepenuhnya dikalkulasi investor. Di sisi lain, terdapat optimisme investor terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan di beberapa negara khususnya Amerika Serikat menyusul rilis data perkembangan ekonomi yang ada,” ungkap Fahmi kepada SWA Online, Rabu (29/11/2023).

Fahmi melanjutkan, berdasarkan data historikal, ketika harga BTC tidak terlalu banyak bergerak, biasanya ada kecenderungan altcoin mengalami fluktuasi harga signifikan. Melansir dari Coinmarketcap pada 29 November 2023, sejumlah altcoin yang mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan di antaranya Blur (BLUR) yang naik 50% dan melejit ke top 100, kemudian Axie Infinity (AXS) meningkat 21% serta Maker (MKR) terapresiasi 5,6% dalam sepekan. 

Selain itu, Treasure (MAGIC) turut naik 25,65% dalam sepekan menyusul respons positif pasar terhadap rencana proyek tersebut untuk mengembangkan jaringan blockchain khusus gaming yang akan menggunakan token MAGIC sebagai biaya transaksi. Kemungkinan besar jaringan tersebut akan diciptakan menggunakan teknologi Arbitrum. 

Baca Juga  Tidak Punya Riwayat Kanker, Apakah Sudah Pasti Aman?

“Setelah berita tersebut tersebar, di saat bersamaan pada 25 November, transaksi harian Arbitrum naik dan berada pada angka 2,4 juta transaksi. Jumlah ini melebihi Ethereum yang membukukan 986 ribu transaksi pada hari itu,”ujar Fahmi.

Menurut Fahmi, hal tersebut menandakan terjadinya tren positif terhadap altcoin ketika BTC terkonsolidasi. Kenaikan harga beberapa altcoin juga didukung oleh sejumlah capaian atau perkembangan positif terhadap produk atau teknologi yang dikembangkan.

Sementara, kenaikan aset kripto BLUR didukung oleh keberhasilan tim pengembang proyek tersebut dalam mengumpulkan pendanaan sebesar US$60 juta untuk berinovasi meluncurkan jaringan layer-2 baru bernama Blast. Jaringan ini berfokus mengatasi permasalahan-permasalahan pada transaksi NFT dan memudahkan pengguna untuk mendapatkan yield lebih optimal. 

“Blast telah berhasil menarik lebih dari US$30 aliran dana juta sesaat setelah peluncurannya. Menurut data Defillama, saat ini total nilai terkunci pada jaringan tersebut sudah berada pada angka US$572,9 juta,” ujarnya.

Sementara Axie Infinity sebagai pelopor gim Web3, mengumumkan toko merchandise-nya, yang juga dapat diakses melalui penambahan aplikasi e-wallet Grab di Asia Tenggara. Setelah berita tersebut, token AXS turut mengalami apresiasi. Ini karena gim Web3 tersebut mendukung penggemar serta komunitasnya dalam mengintegrasikan gim dengan aplikasi yang sehari-hari digunakan seperti Grab. 

“Inovasi yang dilakukan Blur, Axie Infinity, dan Treasure tersebut turut menggambarkan perkembangan yang positif terhadap industri blockchain dan aset kripto secara lebih luas. Juga menunjukkan kuatnya dukungan komunitas dan investor terhadap proyek-proyek yang mengembangkan altcoin,” kata Fahmi.

Secara keseluruhan pasar kripto, kendati Bitcoin tengah mengalami sideways, potensi bull-run masih terlihat. Namun, Fahmi mengatakan kemungkinan terkoreksi juga masih sangat terbuka.

Sideways mengacu pada fase pasar di mana harga mata uang kripto tetap relatif stabil dalam kisaran sempit, menunjukkan pergerakan minimal ke atas atau ke bawah. Fase sideways ini menandakan keseimbangan antara pembeli dan penjual sehingga mengakibatkan tidak adanya tren yang jelas.

Baca Juga  Bank Negara Indonesia (BNI): Membangun Ketangkasan dengan Transformasi Kultur, Bisnis, dan TI

“Situasi pasar seperti saat ini sangat mendukung untuk para investor mengevaluasi ulang strategi dan tesis investasi yang dimilikinya. Dengan begitu, investor bisa menyesuaikan kembali komposisi portofolio aset kripto serta rencana trading dan investasi mereka untuk mempersiapkan potensi fase bullish yang lebih besar lagi. Bagi investor pemula, situasi saat ini bisa dimanfaatkan untuk menyusun rencana investasi, agar memiliki strategi yang sesuai dan lebih siap ketika fluktuasi pasar meningkat,” ujar Fahmi. 

Kondisi pasar kripto saat ini juga menunjukkan adopsi yang terus tumbuh. Indonesia sendiri berada di peringkat 10 teratas dengan jumlah investor kripto terbanyak di dunia berdasarkan Chainalysis. Pada Oktober lalu, jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai 18,6 juta orang. 

“Dengan peningkatan adopsi ini, diharapkan semakin banyak investor yang dapat memanfaatkan potensi dan peluang di pasar kripto. Tentunya investor dihimbau untuk tetap bijak dalam berinvestasi, dengan rutin memantau kondisi pasar dan memiliki rencana investasi yang matang,” ucap Fahmi menutup keterangannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *